Senin, 27 Mei 2013

Melukis Doa Terakhir untuk akhir

Seperti debu larut dalam air
Terlalu dalam, terlalu dingin
Terlalu gelap......
Aku melukis tiruan pucat kebahagiaan
Dengan kuas lemah.......
Melewati keinginan.......
Sementara semuanya menghilang
Aku menemukan penghiburan dalam bukit pucat
Aku nyaman melihat pohon-pohon
Menari-nari untuk kesendirianku
Aku telah ditetapkan disini tanpa menoleh kebelakang
Seperti anak kecil meminta-minta belas kasihan
Aku memejamkan mata dan menyimpan
doa terakhir
Untuk akhir yang tidak pernah berakhir


Selasa, 21 Mei 2013

Takdir Yang Bermimpi


Melupakan dibangkitkan dalam skenario mimpi
Nasibku menertawakanku mencoba untuk mendapatkan pengertianku
Aku memeluk nasibku, kematianku, takdirku
Nasibku akan mati bersama takdirku
Mimpi buruk menghantui dingin hatiku
Bayangan dari masa lalu
Merayap perasaan yang tidak pernah ingin mati
Mengapa tidak bisa aku lupakan... semuanya.....
Ini bodoh....
Namun duniaku akan selalu terlihat seperti ini
Satu saat kenangan yang menusuk dalam hati
Namun sekarang saatnya untuk mengucapkan selamat tinggal.....
Selamat tinggal........
Ini adalah waktu untuk mengucapkan selamat tinggal.......


Rasa Rakit Yang Terluka


Aku mendengarkan bisikan sedih
Di setiap bekas luka yang aku buat
Awan gelap mengisi tubuh
Tapi hatiku dibiarkan kosong
Berlutut.......
Mencoba untuk mengalahkan diriku
Berlutut.......
Dengan ketidak seimbangan aku dan kesedihan
Mencoba untuk menghadapi rasa takut
Dalam kegilaan ini aku tidak bisa beristirahat merasakan sakit
Hujan dingin harus membunuh api terakhir dalam diriku
Tidak bisakah kau beri aku tanganmu


Hujan Membasuhku


Kegelapan jatuh pada pikiranku
Ingat semua malam tanpa tidur
Bayangan rasa sakit tak berwajah
Perasaan hujan dalam gelap
Akankah kenangan sedih membasuh dengan rasa malu?
Akankah hujan membasuh setan-setan di mataku?
Mimpi kesendirian yang tidak dapat ditemukan
Akankah hujan membasuh?
Yang aku ingat adalah rasa sakit datang kembali
Bersama tali dileher tersedak
Akankah kenangan sedihmu membasuh mukaku dengan rasa malu?
Akankah air matamu membasuh setan-setan dalam pikiranku?


Waktu Yang Ditinggalkan



Pergi dari pelukan seseorang
Hanya dengan cara yang menyedihkan
Waktu ditinggalkan
Diabadikan dalam jiwaku
Daging Dagingku, aliran darahku
Mengapa malam tidak menghentikan masa depan
Yang mengambil dia dariku
Ketika bibir berbicara, suaraku air matanya
Sekarang aku tahu bahwa hati
Juga lelah menunggu
kekasih yang selalu kita ingin


Senin, 20 Mei 2013

Dari Sebuah Diary


Masih keinginanku.....
untuk anggur penulis cerita sedihmu yang berharga.
Biarkan aku pergi, ke lembah-Mu!
Dimana duka yang kuat adalah sukacita.
Masih keinginanku.....
biarkan hati ini dengan engkau menginspirasi.
Mengisi udara dengan aroma manis Mu.
Di mana pun dia tinggal,
aku akan tawarkan napas perpisahan.
Karena ia tinggal dengan keindahan.
Keindahan yang harus mati jauh dalam diriku.
Aku akan menunggu kembali.
Untuk merindukanya.
Nafsu dan pikiran sedih menjadi milikku
Hatiku Mu.


Hidup Ini Membunuh Semangat Hidup


Ketika aku mati, kalian akan mengingat semua hal yang sudahaku coba untuk katakan!

Ketika aku membusuk di tanah, aku tidak ingin kalian peduli!

Pasir waktu yang sia-sia di dunia,tidak membawa ketenangan.

Aku akan tinggalkan semua jika kata yang tersisa keterlaluan.

Menunggu....... sedangkan kata-kata asam yang aku makan.

Menonton....... .. kalian membunuh semangat hidupku.

Aku benci cara kalian melihat aku dengan mata berjiwa beku.

Mungkin aku sombong merasa bisa hidup tanpa nama kalian.

Tapi..... Aku telah belajar menjalani kehancuranku.

Dan aku telah belajar melihat dengan mata belakangku melaluijalan aneh ke puncak nasib impianku yang begitu dingin.

Terimakasih kata-kata asam kalian mengajariku sesuatu yang berguna.


Sabtu, 18 Mei 2013

Keheningan Bermain Begitu Indah Untuku


Di tangan aku masih memegang mawar yang membeku,
daunya mulai layu, berhenti tumbuh,
tapi duri masih mencabik cabik lukaku.
Anggur cinta, begitu manis,
tapi pahit untuk menyesali.
Saat matahari terbenam aku bertemu ketakutan.
Sebelum mata menemukan harapan,
Kabut gelap lembut malam, rakus memakan semua.
Dalam keheningan malam aku kehilangan diriku sendiri,
membuat aku mabuk dengan suara manis.
Dalam mabuk kesendirian
Aku takut alam serius tidak lebih dari kematian
Tidak ada keluhan dari bibirku saat aku minum anggur pahit
Hatiku tidak akan sakit
karena aku tahu semua mungkin berakhir
Hanya aku dan puisi malam
Sekarang selamanya satu ....
Keheningan bermain begitu indah untuku ...



 

Super Translator

Msg Tittle

Chat

Copyright 2010 Share Our Pain. All rights reserved.
Themes by Bonard Alfin l Home Recording l Blogger Template